Hei Semua Orang

7 06 2008

Visit lirikita.com :)

It’s not the best lyrics website out there, but we’re working on it.





Sinema Indonesia Mau Balik Ngampung Lagi?

21 04 2008

XL.

Quickie Express.

ML.

Namaku Dick.

*groans*

Grow up, people.





Kamu Tahu Dunia Akan Berubah Sekali Lagi, Kan?

11 04 2008




Sumb

4 04 2008

Apa yang kamu lakukan kalau pada akhirnya kamulah sumber dari sebuah permasalahan?

Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya hanya tahu bahwa saya-lah, memang, sumber dari sebuah permasalahan.





Menyoal Toko-toko Kelas Kancut

11 03 2008

Menurut saya, cuma toko-toko kelas kancut yang akan meminta pembeli melepas jaket sebelum masuk tempat mereka.

Yah, seperti Hypermart. Gramedia. Dan teman-temannya itu.

Jadi kamu tidak peduli kalau jaket itu punya fungsi? Dia menghangatkan badan orang, terlebih kalau orang itu sedang tidak enak badan. Terlebih kalau pendingin ruanganmu diset terlalu tinggi, mungkin biar dianggap modern dan dikira toko gedongan.

Jadi kamu tidak peduli kalau bisa saja saya pake jaket itu tanpa pakai apa-apa lagi di baliknya? Mungkin itu ide yang buruk, tapi apa urusanmu dengan pilihan fashion saya?

Jadi kamu pikir saya ini mau maling barang-barangmu terus saya sembunyiin di jaket?

Oh, jangan salah. Di celana saya masih banyak kantong. Di dalam mulut juga bisa, kalau memang saya niat nyolong.

Mungkin saya satu-satunya orang di dunia yang selalu ngrasa tersinggung kalau disuruh melepas jaket kalau mau masuk supermarket. Mereka nggak mau tahu kalau saya nggak kuat dingin. Yang mereka tahu, itu sudah prosedur, udah tertulis. Pengunjung berjaket adalah maling potensial.

Cuma untuk melindungi diri sendiri dari kerugian yang paling berapa juta, kamu malah membuat pengunjungmu merasa dicurigai. Kamu mengacuhkan kesehatan mereka.

Kalau sudah begitu, kalau uang segelintir lebih dipentingkan daripada menghormati konsumen, vonisnya sudah jelas kan? Toko kelas kancut, lu.





Batasan dalam Tulisan

3 03 2008

Newyorker.com merilis artikel membahas tentang “Not Quite What I Was Planning,” sebuah kompilasi memoirs yang masing-masing dituliskan dalam enam kata. Yang menarik adalah bahwa artikel itu sendiri pun ditulis dalam 6 kata pada tiap kalimatnya.

Keren, ya? Saya suka sekali dengan pola penulisan dengan batasan-batasan seperti itu. Haiku seperti itu. Pantun juga. Kalau menulis SMS pun kita dibatasi oleh jumlah karakter, sehingga kadang harus memutar otak dan membuat gaya penulisan yang baru.

Saya pernah juga bereksperimen seperti itu di blog ini.

Pada tanggal 7 bulan 7 tahun 2007, saya merilis posting “Kisah Sederet Angka Yang Seolah Menampilkan Makna“. Ya, posting yang judulnya terdiri dari 7 kata.

Berisi total 7 paragraf.

Dengan tiap paragraf diisi oleh 7 kalimat.

Dan 7 kata untuk tiap-tiap kalimatnya.

(Baca dan periksa sendiri ya, kalau tidak percaya.)





Perihal Omong Kosong Konsumsi Publik

27 02 2008

Aturan tidak tertulis di dunia infotainmen adalah bahwa ketika kamu menjadi seorang artis, maka kehidupan pribadimu sudah menjadi ranah konsumsi publik. Dan dengan alasan itu mereka akan dengan enaknya bertanya kapan kamu mau kawin, dengan siapa kemarin malam kamu datang ke gala dinner, dan dengan gampangnya mereka akan datang ke Pengadilan Agama lokal untuk memeriksa apa benar kamu akan cerai minggu depan.

Pernahkah kamu berpikir tentang ini? Apa sebenarnya yang dimaksud konsumsi publik? Siapa yang membuat aturan seperti itu? Siapa yang memberi izin wartawan-wartawan itu bergerombol mengerubuti artis-artis hingga susah berjalan, susah keluar rumah, susah masuk mobil?

Saya kok berpikir semua itu omong kosong. Hanya karena kamu berprofesi artis, tidak lantas kehidupan pribadimu hilang. Itu cuma sampah yang dihembuskan orang-orang infotainmen sendiri sebagai justifikasi perilaku mereka yang, terus terang saja, suka kampungan dalam mengorek-ngorek hal-hal yang sejatinya bersifat pribadi.

Dan bodohnya kita semua percaya saja terhadap alasan mereka.

Dan bodohnya artis-artis itu kok juga mau percaya. Why don’t you fight back, guys?

Kalau artis-artis itu bersatu dan menolak berkomentar terhadap pertanyaan bersifat pribadi, dunia infotainmen bakal kehabisan nafas dan mati perlahan. Tanpa statemen dari artis, mereka hanya tinggal punya strategi menghembuskan pernyataan semacam “benarkah ada gosip bahwa Si Artis X berbuat ini…” meski sejatinya dari mereka sendirilah gosip itu bermula.

Bayangkan. Infotainmen mati. Bukankah itu impian kita semua?

Atau jangan-jangan sesungguhnya artis-artis itu juga butuh infotainmen untuk mendongkrak popularitas? Karena publisitas baik atau buruk itu ujung-ujungnya baik juga?





Introspeksi

21 02 2008

Duty Calls. Lucu. Tapi ini bisa jadi sesuatu yang merubah cara pandang (dan kelakuan) saya di Internet secara drastis. It’s great. Sebuah humor selalu paling lucu ketika ia menyatakan kebenaran.

Ngomong-ngomong apa kabarnya semua?

Beberapa hari yang lalu sukses KRS di kampus cukup dalam sehari, jadi khusus semester ini tidak ada artikel “memuji-muji” kampus lagi. Tunggu nanti kalau udah mulai ngurus seminar dsb, mungkin.





Yang Paling Mengherankan Saya Adalah Bahwa…

30 01 2008

…seminggu ini, ada juga yang sungguh-sungguh mengibarkan bendera setengah tiang.

Lihatlah betapa selepasmu pun penutup mata-penutup mata yang kau pasangkan bersama todongan senapan masih juga membutakan kami semua.





Jauhi Sepakbola Kami

17 01 2008

Sepakbola.

Pernahkah terpikir bagimu bagaimana bisa sebuah permainan semacam ini dapat sedemikian merasuk pada hati dan meramu emosi para penggemarnya? Ya, bagaimana bisa?

For God’s sake, it’s just a bunch of people running around chasing a ball.

Dipikir dari manapun, ini hanya permainan yang konyol. Sederhana, lucu, ironis. Tetapi tahukah kamu apa rahasianya yang membuat kami semua sedemikian terpicu, terpacu, begitu terobsesi padanya hingga kami relakan porsi besar dalam perasaan, pikiran dan hati kami untuknya?

Tak lain karena sejatinya, jauh di lubuk hati kami, sepakbola adalah sebuah dunia impian di mana keadilan ditegakkan. Dan itulah yang sungguh-sungguh kami rindukan. Keadilan.

Sepakbola adalah pertandingan di mana pelanggaran diganjar tendangan bebas, tekel menjurus bahaya kartu kuning, dan agresi keras dibalas kartu merah. Setimpal, tanpa birokrasi berbelit, sebab dan akibat. Pun, ketika bola masuk ke gawang, maka gol adalah gol, penciptanya mendapat satu angka. Bersih. Tak pernah sekalipun satu angka itu dimakan 80%-nya oleh penguasa yang lebih tinggi, misalnya. Tak pernah ada ceritanya untuk mendapat satu angka itu seseorang harus mengunjungi kantor demi kantor, mengumpulkan tanda tangan ini dan berkas fotokopi itu.

Tidak ada.

Dan itulah sejatinya yang kami cari dari sepakbola. Sebuah harapan tentang bahagianya hidup ketika keadilan ditegakkan dengan indahnya. Secercah kedamaian yang sulit, sungguh terlalu sulit untuk dicari di kehidupan yang kami jalani sehari-hari, di negara sampah ini.

Maka, PSSI, jauhilah sepakbola kami.

Karena ketidakbecusanmu berujung pada penunjukan wasit yang tidak pantas, pemilihan stadion yang tidak pantas, pengaturan keamanan yang tidak pantas, dan pengendalian massa yang tidak pantas. Keadilan pun runtuh, kecurangan dan ketidakseimbangan menebar aroma busuk pada tiap langkahmu. Tragedi yang pada akhirnya merampas dan mencerabut impian tentang keadilan itu langsung dari jantung hati kami.

Dan, betapa dalamnya luka itu! Kau, dengan ketidakbecusanmu, telah dengan kasar membangunkan kami yang lelap dalam mimpi terjaga yang indah ini—mengingatkan kami kembali pada kenyataan sehari-hari yang pedih dan memuakkan.

Kau, dengan kebusukan yang jelas bukan untuk kali pertama ini.

Maka, amuk.

Tidak bisa tidak.

Tak satu makhlukpun yang akan terima impiannya diusik, diganggu, terlebih dicerca dan disiksa perlahan-lahan hingga habis batas kesabaran. Terlebih olehmu, yang terus terang saja sama sekali tak pernah punya tempat terhormat lagi di hati kami.

Maka, PSSI, jauhi sepakbola kami. Jauhi permainan ini. Jauhi impian ini.

Kau tak punya tempat di sini. Tidak sekarang. Tidak kapanpun.





Tunggu, Kalau Suharto itu Dirawat oleh 40 Dokter Kepresidenan…

13 01 2008

…berarti biaya perawatannya selama ini didanai negara, dong?

Asal itung aja nih, tapi bisa jadi dana sebanyak itu cukup untuk menyelamatkan seratus warga Indonesia yang sedang sekarat di rumah sakit mungkin, ya?

Kalau harus memilih, antara satu dan seratus itu, mana yang kamu dahulukan?





Lepaskan Gelar Hajimu

9 01 2008

Kalau toh tak ada embel-embel “H” di depan namamu, Allah sudah tahu pasti dan semuanya telah tercatat rapi. Pun tak ada pentingnya apa-apa bagi orang lain untuk tahu apakah engkau telah tunaikan rukun Islam kelima itu atau tidak.

Kukira bukannya dengan engkau kemana-mana dengan pakaian ihram itu telah luntur pula hasrat jiwamu akan sekedar gelar?





Seribu Rupiah untuk Sekeping Mindshare

7 01 2008

Ibu penjual roti maryam itu meminta seribu rupiah lagi, agar pas bisa memberikan kembalian sepuluh ribu Rupiah untuk Mbak pembeli yang dua roti pesanannya berharga sebelas ribu Rupiah.

Mbak itu tidak punya selembar seribu. Sepertinya hanya dua puluh ribu yang dia ulurkan tadi yang ia bawa di dompetnya.

Ibu penjual itu tersenyum dan memberikan lembaran sepuluh ribu itu pada si Mbak. Dengan wajah segan dan ekspresi menolak, Mbak yang tampaknya telah menjadi pelanggan lama itu mengibas-ngibaskan tangan—gestur khas orang Jawa yang menunjukkan rasa sungkan. Si Ibu penjual terus menyodorkan uang itu sampai diterima. Memang tak ada pilihan lagi, dan akhirnya si Mbak berlalu sambil mengucap terima kasih berkali-kali.

Saat itu saya di sana. Dan dengan menanggung kerugian seribu Rupiah itu, si Ibu penjual berhasil memperoleh sekeping mindshare dalam kepala saya.

Dengan seribu rupiah, dia berhasil mendapat tempat di benak saya, mendapat satu posting di blog saya.

Seribu rupiah yang kalau dia berikan cuma-cuma buat saya, saya justru akan menilai dia sebagai pedagang yang aneh, tidak seberapa ada nilainya. Tetapi begitu seribu yang sama itu ada dalam konteks dia mencoba memberi layanan lebih pada pelanggan, nilainya jadi naik berkali-kali lipat.

Seribu rupiah itu tidak cukup untuk pasang iklan baris di koran.

Seribu rupiah itu tidak cukup untuk pasang spanduk, baliho, menebar selebaran.

Tapi, dengan attitude yang pas, dengan kepedulian yang tidak dibuat-buat, seribu rupiah itu bisa bermakna jauh lebih dalam.

Masih berpikir kalau usaha itu perlu modal besar?