Seorang siswa SMP Semarang jadi mati setelah menyelesaikan Ujian Nasional (UN). Diduga, sulitnya soal UN jadi salah satu penyebab kematiannya. (detiknews)
Inna lillahi, wa inna ilaihi raaji’un..
Kebetulan, saya juga pernah menjadi siswa SD, SMP, SMA. Dan saya tahu betul betapa besarnya beban yang harus ditanggung oleh setiap pelajar ketika menjelang Ujian Nasional. Dulu, ketika tengah berada dalam kecemasan, rasa takut, ketegangan, kekalutan menghadapi Ujian yang hendak datang, saya sempat berpikir: “Andai jantungku lemah, saya bisa mati ini.”
Dan itulah yang terjadi pada Rizki hari ini. Jantungnya tidak sanggup bertahan menghadapi tekanan batin semacam itu. Kebetulan, ia menderita kelainan jantung.
Dan saya pikir, ini gila! Nilai ujian itu tidak pantas dibayar dengan nyawa!
Inilah saat-saat di mana saya sungguh membenci sistem pendidikan formal di negeri ini. Mengapa ujian itu harus menjadi menyeramkan? Jika saya bertanya pada diri sendiri, saya akan jawab bahwa saya takut nilai saya buruk. Saya takut mempermalukan sekolah. Saya takut mengecewakan orang tua. Saya takut masa depan saya berantakan. Saya takut.
Takut.
Padahal pengetahuan itu, setahu saya, ada untuk menghilangkan rasa takut!
Duh, sekolah-sekolah, saya ingin bertanya. Lalu apa jika mereka gagal? Apakah nilai satu, dua, tiga itu tanda kegagalan mereka, atau tanda kegagalanmu?
Atau tidak? Apakah menurut kalian mereka tetap berharga? Lalu sudahkah kalian beritahukan perihal ini pada mereka?
Duh, para orang tua, saya ingin bertanya. Memangnya kenapa kalau anakmu bodoh? Memangnya ada apa jika nilai mereka buruk? Apakah itu menjadikan mereka tidak berharga?
Atau tidak? Apakah menurut kalian mereka tetap berharga? Lalu sudahkah kalian beritahukan perihal ini pada mereka?
Duh, negaraku, saya perlu bertanya. Memangnya ada apa jika anak-anak yang malang ini tidak lulus dari sistem pendidikanmu yang berantakan? Andai mereka gagal, apakah mereka sampah? Karena itulah yang saya rasakan. Itulah yang dulu saya takutkan.
Atau tidak? Apakah menurut kalian mereka tetap berharga? Lalu sudahkah kalian beritahukan perihal ini pada mereka?
Duh, masa depan, saya perlu bertanya. Apakah engkau hanya milik mereka yang sukses Ujian Nasional? Sukses menjadi murid SD, SMP, SMA, S1, S2, seterusnya?
Atau tidak? Apakah di sana masih ada tempat untuk mereka?
Maaf, saya harus sudahi dulu di sini. Saya harus berhenti karena kadar emosi di hati sudah terlalu tinggi. Malah batin saya sudah berujar, “andai jantungku lemah, saya bisa mati ini.”

Pendidikan di Indo luar biasa konyolnya. Udah kaya panggung Srimulat, dan lebih parah. Gw benci setengah mati ama budaya pendidikan Indo, sumpah rasanya pengen gw caci maki Depdiknas, supaya itu mata dibuka.
Udah ga ada moral lagi, sampe guru juga ngatrol nilai siswa. Buat apa? Supaya anak-anaknya lulus, supaya DIA GA MALU KALO ADA ANAKNYA YANG GA LULUS. Heran gw, kalo emang tu guru ga bisa ngajar, ya itu emang kenyataan.
Dan ada siswa yang menghalalkan segara cara. Nyontek, plagiat, nyogok.. Ortunya juga ikutan. Kesannya kalo ga dapet nilai 9 atau 10 itu ga pinter, kalo ga dapet ranking 1 itu goblok. Kalo emang bangsa Indo segitu ‘pinter’nya, kenapa ni bangsa masih terpuruk aja? Kenapa, pada kenyataannya, permata-permata bangsa malah digaet luar negeri? Ananda Sukarlan mewakili Spanyol saat Festival Musik Dunia. Aneh bener.
Tapi ironisnya, banyak anak-anak yang memang cerdas, yang memang berbakat, terpaksa ngebuang segala idealisme murni mereka, karena guru dan ortunya menyuruh mereka seperti itu. Ibaratnya, udah dari kecil mereka ditindas.
kalau sudah tahu menderita kelainan jantung & bakal nggak kuat menghadapi ujian nasional,
kenapa tetap maksa ikut ujian nasional?
apa tidak ada alternatif lain?
# kappa
Iya, ditindas. Secara mental, malah. Maka nggak heran kemudian ada kasus bunuh diri, meracun diri sendiri, dan seterusnya.
# kikie
Wah ini saya nggak tahu mbak. Tapi pastinya tidak ada alternatif lain buat dia supaya lulus selain harus ikut Ujian Akhir kan? Dan selama dia harus tetap berpartisipasi, pasti tekanan itu akan dirasakan oleh dia.. ya beginilah bangsa ini.
[...] sekedar membiarkan diri dicekoki dengan terlalu banyak materi sekolahan, yang sudah terbukti bahwa tidak semua anak sanggup menampung kesemuanya. Kalau dalam bahasanya Kappa: “Memangnya anak-anak itu mau dijadikan [...]
Kadang saya berpikir, apa betul sih sedemikian susahnya UN? Kebetulan anak saya ikut UN 4 (empat) tahun lalu, rasanya saat itu yang kawatir bukan lulus tidaknya UN nya, tapi apakah dia bisa diterima di PTN?
Memang sih, sebagai wanita bekerja dan ibu, sejak mereka kelas 1 SMA saya telah mulai mempersiapkan mereka, juga saya dan suami bagi tugas untuk membantu membimbing. Temen saya mengatakan…Kok repot sih, ikutkan les aja…..tapi emang saya yang nggak puas dan tetap ikut monitor. Dengan perencanaan awal yang matang, pas ujian anak tak terkaget-kaget, kecapekan dan menjadi sakit.
# edratna
Kalau pengalaman saya dulu, pertama dari sisi kuantitas Bu. Seharusnya soal-soal tiap mata pelajaran itu tidak terlalu susah, namun kare jumlahnya begitu banyak, jadi menyulitkan untuk belajar (karena, terutama, tidak semua anak memiliki kemampuan memori yang cukup baik–termasuk saya, saya ini pelupa, dan karena itu sulit sekali bila harus menghafal).
Kemudian faktor psikologis itu yang berat. Beban mental bahwa saya harus lulus, tidak boleh mengecewakan dan sebagainya, itu yang berat.
hmmmm menurut ku pendidikan di indonesia ini lagi berkembang,…..berkembang menuju keberhasilan……..yang gwe liat…dari kita masih di jajah…..cuman ada segelintir orang yang bisa ngerubah indonesia menjadi baik….. dan itu pun karena mereka orang berada…. nah yang jadi maslah nya…. sekarang2 ini banyak banget orang yang bertitel…. tapi gak da satupun yang bisa ngerubah….indonesia ini….
oi iya yang di maksud gwe berkembang adalah berkembang ke samping….bukan ke atas… jadi jauh menuju keberhasilan….
sudah lah….. kita ini hanya di anggap sebagai objek percobaan sistem yang gak ada fungsinya sama sekali….. kita bersuara….bersuara dan bersuara…. tapi ada yang denger gak ya…?????? aneh memang…..
idealisme.apatisme.kolonialisme…… itu sifat indonesia dari dulu….. yang gak isa di rubah…….. pendidikan kita in bagus sebenernya….cuman orang 2 yang mengadakan nya gak mikir panjang ……..mereke cuman ikut2tan…… peniru no 1 di dunia ….. ==== MAAFKAN AKU INDONESIA……AKU TIDAK MENYALAHKAN MU….AKU CUMAN HERAN…KENAPA NEGARA KITA INI GAK PERNAH BISA TENANG WALAUPUN SATU HARI???…..INDONESIA OH INDONESIA…SURGA YANG SANGAT JELAS TERLIHAT…. DARI SEGALA PENJURU DUNIA….HFFFFFFFFF………. CUAPE DECHHHHH…
BUAT ORANG2 YANG MERASA IBA TERHADAP NEGRI INI SILAHKAN SIAPKAN TISU DI DEPAN ANDA….KARENA BAKAL BANYAK KEJADIAN YANG BIKIN ANDA MENANGIS …. T_T…PAK PRESIDEN….. TOLONG KAMI PAK…… KAMI SUDAH CAPEK MENJALANI SISTEM YANG GAK JELAS….TOLOONG KAMI …..TOLOOONG KELUARKAN KAMI DARI KOLONG JEMBATAN. ANGAKAT KAMI MENUJU KEMAKMURAN….KESEJAHTERAAN …..YA ALLOH…..JADI KAN NEGRI INI NEGRI YANG AMAN…TERHINDAR DARI SEGALA MACAM MARA BAHAYA….JADI KAN ORANG2 PEMERINTAHAN KITA INI ORANG YANG JUJUR….. AMIN
Saya adalah peserta ujian negara tingkat SMP yang lalu. Saya mengerti bahwa kemampuan tiap-tiap siswa itu berbeda. Akan tetapi, kelulusan bukanlah segalanya.
Disatu sisi, saya merasa kaget mendengar berita ini. Nyawa harus diserahkan hanya untuk meluluskan diri? Apa gunanya lulus bila harus kehilangan nyawa?
Disatu sisi, saya terheran-heran. Semua materi ujian telah diberikan selama menduduki bangku SMP. Sehingga tidak menjadi alasan lagi bahwa soal yang diberikan sulit. Seorang murid yang tidak siap menghadapi ujian memang beresiko untuk tidak lulus. Itu adalah sebuah resiko yang harus dihadapi semua peserta ujian. Selama seorang murid dengan penuh perhatian mengikuti pelajaran gurunya dengan baik, maka hampir tidak ada kesulitan bagi mereka.
Bidang yang diujikan adalah materi-materi yang berkaitan dengan logika. Lebih tepatnya kemampuan mengolah peristiwa dari seorang siswa. Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia tidak tepat untuk dikatakan sebagai mata pelajaran “hafalan”. Sehingga, tidak siap menghadapi ujian negara, berarti kurangnya kemampuan untuk mengolah siswa, atau kurang terbiasanya siswa dengan soal-soal tersebut.
Kasihan juga ya. Klo saya sih nga’ mikir semua itu dengan terlalu tegang rileks aja nga’ usah neko-neko semua udah ada yang ngatur. Kita hanya cukup berusaha semampu kita n’ berdo’a dah cukup. Nilai N’ rangking tuh nga’ penting sama sekali yang penting kan seberapa banyak hal baru yang nyangkut di kepela kita, seberapa dapat kita merubah diri dengan apa yang barusan kita ketahui. itu aja.
# kyoshirougie
Iya, iya, sabar sabar mas.. bisa nulis panjang gitu, bikin blog aja gih
# anonymous
Yup, persiapan itu memang penting dan pasti bermanfaat. Saya di sini lebih membahas soal pola pikir masyarakat/orangtua/negara dan bagaimana hal tersebut bisa membebani murid.
# anas
Yup, gak penting menurut kita (dan emang nggak penting kok). Tapi lain lagi di hadapan diknas. buktinya, kalau nilainya kurang, ndak lulus kan?
aku nggak tau sih kalo dengan orang lain gimana (dan mungkin aja aku bakal dicap sombong). tapi yang jelas, dari kecil aku selalu dididik ortuku dengan kepercayaan diri yang besar (dalam bidang akademis, tentunya). jadinya, sampe SMA, alhamdulillah tiap ebtanas aku nggak merasakan tekanan yang berarti. jadinya, aku juga pengen anak2ku besok juga bisa komentar, “ah, cuma ujian akhir, kok. biasa aja.”