Ia terus membaca, menulis, melanjutkan kerja jurnalistiknya. ”Jadi tukang,” katanya.
Tukang?
”Ya,” sergahnya. ”Bukan robot. Untuk jadi tukang keterampilan saja tak cukup. Ada pergulatan intens. Tukang kayu harus kenal kayu secara personal. Petani harus kenal cuaca, tanah, air, benih, secara personal.”
Iya, ‘kan? Itu lebih, lebih, lebih masuk akal daripada sekedar membiarkan pelajar-pelajar dicekoki dengan terlalu banyak materi sekolahan, yang sudah terbukti bahwa tidak semua anak sanggup menampung kesemuanya. Kalau dalam bahasanya Kappa:
“Memangnya anak-anak itu mau dijadikan robot?”
Satu hal: Robot itu bisa diprogram untuk berkata “terima kasih”, berkata “maaf”, tapi robot tidak bisa diharapkan untuk dengan tulus berterima kasih, atau meminta maaf. Wong kadang-kadang manusia saja masih kesulitan untuk itu..

Komentar Terakhir