…setelah membaca artikel tips menghujat secara Islami, ya?
Saya pikir tulisan semacam ini terlalu redundan dan jadinya hambar-hambar saja. Dan saya pikir ketika ada pihak yang menulis pada titik ekstrem tertentu yang kita tidak setuju, apa memang perlu menjawab dengan arah ekstrem yang sebaliknya, yang sejauh-jauhnya?
Dan saya pribadi merasa tidak enak hati melihat ayat Al Qur’an dibawa di dalam tujuan “olok-olok”. Sama dengan mas Fadli di salah satu komentar postingan tersebut.
Jadi, apa sih yang sebenarnya ingin disampaikan artikel tadi? Kritik? Lalu solusinya?

bacanya pelan2 deh mas, bacanya pake hati dan lihat tujuan sebenarnya di balik tulisan satire itu… ada tujuan mulia bahwa Islam atau Al-Quran itu rahmatan lil alamin… InsyaAllah mudah2an paham…
olok-olok ??? … apa memang postingan itu bertujuan buat olok-olok ??? …
hmmmmmm ….
apa memang cara “menjawab” setiap orang harus sama ? …
bukannya solusi didapat melalui pemikiran ??? … dan menurut saya postingan itu bertujuan untuk mengajak merenung dan memikirkan “sesuatu” … dan solusi yg anda tanyakan akan terwujud kalo udah merenungkannya …
sesuatu kan ngga bisa selalu dinilai dari packaging-nya …
peace! …
dan ga deg2an lagi
Klo masih deg2an kasih tahu yaaa… ntar tak obatin…
Hmm,, sebelomnya mau nanya,, redundan itu apa?? (maap, bahasa Indonesianya jelek,,)
Mungkin,, (mungkin lho) masalahnya juga karena udah jenuh sama hal hal (atau orang orang) yang terlalu sering mengumbar nama islam dan kalimat Allah sebagai justifikasi perbuatan -dan itu ga bener kan,, CMIIW-,, kan kelakuan ekstrim yang terus menerus mengundang reaksi yang ekstrim juga,,
mungkin juga mas Hafiz sendiri dalam satu level juga bakal kesel kalo liat kelakuan yang salah-menyimpang-berlebihan dan mengatasnamakan sesuatu yang suci dibalik itu,,
Ma yakin,, (semoga) tulisan ini dibuat untuk berusaha membangun islam, jangan sampai islam dan Allah dikotori demi ego, embisi dan niatan pribadi atau golongan yang mengklaim dirinya yang paling benar,, mengkritik,, tapi dengan cara yang berbeda,, dan sedikit unik,,
mohon maaf dan terima kasih,,
@ bu evy : Insya Allah saya juga ndak setuju kok bu dengan sekelompok orang yang apa itu menuhankan mahzab atau apa, dan saya (moga-moga) juga bisa ngerti arah dari artikelnya.. poin saya sebenarnya cuman tiga:
1) artikelnya itu cerdas, tetapi saya pribadi kok merasa agak redundan itu tadi, mungkin saya yang keseringan muter-muter dan baca artikel-artikel satire bertema sama di mana-mana. Kata ibu saya kalo apa-apa berlebihan itu ntar ndak bagus
2) nha, artikel yang cerdas ini bagaimana caranya biar bisa mencerdaskan mereka yang, mungkin, kurang cerdas (dan jadi bahan kritikan)?
3) Tentang penyertaan ayat Al Qur’an itu yang saya pribadi jadi deg-degan… Dan ini serius deg-degan secara fisik bukan metafor… yang saya ndak tau kenapa alesannya..
@ jurig : Lho, kan “olok-olok”, pakai tanda kutip, dan kata itu pun sebenernya saya comot dari komennya mas Fadli.. Di komennya mas Fadli ndak ada tanda kutipnya, saya tambahin sendiri maksudnya karena saya nyadar kok kalo sebenernya artikel itu bukan sekedar maen ejek-ejekan belaka.. peace yah ^^
@ rizma : uhm, maksud saya redundan itu bahwa artikel dengan gaya penulisan satire a la om wadehel itu kok terlalu banyak bermunculan. Takutku jadi counter produktip Terus poin-poin berikutnya ada di reply komen buat bu evy yah.
Sabar mas, sepakat untuk tidak sepakat saja…
Siipp,,!!
Ma baru tau lho itu artinya,,
yah,, jawabannya digabung ama buat bu evy yah?? gapapa deh,,
moga moga omaigat jadi lebih baik lagi,,
Hoo hoo hooo,
Saya juga merasa begitu mas, deg-degan klo mampir kesana, katanya meneruskan misinya si guh. Tapi, menurut saya kayaknya para koki itu kok kaku banget ya dalam menerima kritik dan saran.
Apakah tidak salah jika mereka mengaku ingin menghilangkan kesewenang-wenangan tapi kurang ramah terhadap kritik. Terlalu sering mengadili.
@ anas
Mas Anas,
Silakan baca komentar terbaru di
http://omaigat.wordpress.com/2007/06/02/wadehel-siapa-sih/
Insya 4jj1 menjawab komentar ini sekalian, kok.
(penjelasan lebih lanjut ada di sana)
Hmm, apakah ada bahasa Indonesia Redundan?
Di situ memang wong edan. Tapi sebagai warga Indonesia yang melihat Indonesia makin tak keruan rasanya sesuatu yang seperti itulah yang bisa menghebohkan….
Yah, pas baca entrynya sih, memang tujuannya itu untuk satire. Nyindir.
Tapi ya emang jadi agak miris juga… Kalo diliat-liat, lama-lama Al-qur’an, Rasulullah dan bahkan sampai nama Allah itu dibawa-bawa. Memang sih, hidup ini mempunyai dasar agama sebagai pegangan. Tapi pemahaman akan hidup juga ga berputar dalam agama aja. Ada juga atheis, dan itu sebenernya adalah hak mereka untuk memilih dan berbicara. Nanti toh akan ada hari dimana kita semua diminta tanggung jawabnya
Insya Allah, yang selama ini kita semua jalanin itu yang baik, yang ngga ganggu orang
@ mansup: Iya mas, sepakat
@ Rizma: Amiiin!
@ Anas: wah sama-sama calon pasien bu Evy dunk kalo sama-sama deg-degan
@ Sora9n: whe ini komen bukan buat saya, ndak dibalesi ya
@ divineangel: nggak tau tuh, tapi kalau nggak ada ya harap maklum deh. he he.
@ Kappa: Yeah, poin gw ya itu, ngga enak kalau yang harusnya dihormati jadi dibawa-bawa hal yang..euh.. yang begitu deh.
@ hafizr
waduh, sori Mas. Kelupaan… ^^;;
Masalah ayat ini akan kami bahas di diskusi intern nantinya. Soalnya waktu perumusannya juga sebetulnya yang terlibat cuma penulisnya aja, jadi nggak lewat konsensus/melibatkan policy omg.
Akan kita usahakan supaya bisa ketemu bagaimana baiknya. Makasih masukannya ya.
@ sora9n: ya weis, sip