Bosan harus ngantor tiap pagi? Pusing dengan macet di jalan setiap berangkat dan pulang? Hidup Anda terasa habis di kantor? Mengapa tidak coba bekerja di rumah? Ada banyak alasan bagus mengapa bekerja di rumah itu alternatif yang, bisa jadi, lebih baik daripada bekerja di kantor. Ikuti saya!
1. Jika Anda beranggapan bahwa bekerja berarti kita memakai seragam kerja dan berangkat ke kantor, bisa jadi Anda telah menjadi korban cuci otak oleh dunia korporat yang haus uang. Coba direnungkan perlahan-lahan, siapakah yang sejatinya mengatur bahwa dalam hidup ini kita harus bekerja di luar rumah? Siapakah yang menentukan bahwa untuk dapat bertahan hidup nanti kita harus kesana kemari mengirimkan surat lamaran dan mengikuti tes lowongan kerja? Tidak ada. Bekerja itu perlu, namun sesungguhnya kita berhak dan sanggup untuk memutuskan sendiri di mana dan bagaimana kita akan melakukannya.
2. Keluarga Anda lebih membutuhkan Anda daripada membutuhkan gaji bulanan Anda. Pengamatan kasar saya menunjukkan bahwa semakin lama jiwa dan perilaku anak-anak di Indonesia tidak semakin baik. Mereka semakin cerdas, tentu, namun dalam hal moralitas saya rasa mereka sangat kekurangan perhatian. Dan di sinilah Anda dapat berperan lebih apabila Anda bekerja di rumah. Ketahui perkembangan mereka lebih dekat, berceritalah kepada mereka (ini penting), kenali dan bersahabat dengan mereka. Tentu saja, perhatian yang sama dapat juga lebih tercurah untuk pasangan, lingkungan keluarga, dan bahkan tetangga-tetangga Anda. Bayangkan apa yang bisa Anda lakukan untuk dan bersama mereka jika tiap hari Anda berangkat pagi dan pulang malam dan berangkat pagi lagi?
3. Transportasi dari dan ke kantor itu sesungguhnya adalah pemborosan sumber daya yang luar biasa besarnya. Time Magazine menyatakan bahwa di Amerika, dalam setahun para pekerja kantoran dalam perjalanan dari dan ke kantor menghabiskan total 63 milyar Dolar dalam bentuk gas dan hilangnya waktu produktif. Di Indonesia saya pikir jumlahnya tidak kalah. Bayangkan polusi yang terbentuk. Bayangkan kemacetannya. Bayangkan kontribusi apa yang bisa kita berikan bagi kelestarian alam dan sumber daya.
4. Secara umum, berada di rumah lebih menenangkan daripada berada di dalam bilik kerja di kantor. Tentu saja hal ini bersifat relatif dan bisa jadi tidak berlaku jika kita bekerja di ruang keluarga sementara anak-anak berseliweran dan mengoceh tanpa henti, namun saya lebih memfokuskan pada rasa nyaman yang diperoleh manusia ketika berada di dalam teritori dan “daerah kekuasaan”-nya sendiri. Jika kita lelah, tinggal melangkah ke kamar tidur tanpa perlu meminta izin pada bos di “kantor”, karena diri kita sendirilah bos itu. Dan ini membawa ke poin kita terakhir..
5. Bekerja di rumah memberi kita kesempatan lebih luas untuk belajar menjadi seorang pemimpin. Di rumah, Anda-lah bos diri Anda sendiri. Akan ada saatnya kita harus belajar bertempur sendirian melawan rasa malas, berjuang menegakkan kedisiplinan, dan lain sebagainya. Di rumah tidak ada yang menegakkan aturan selain diri kita sendiri, sehingga perlahan-lahan kita tidak punya pilihan lain selain perlahan-lahan menanamkan nilai kedisiplinan dan kepemimpinan dalam jiwa kita. Mungkin ada saatnya kita gagal, dan ada saatnya kita berhasil, namun itulah sesungguhnya yang dinamakan perjuangan.
Kita semua sadar bahwa tidak semua orang di dunia ini bisa bekerja di rumah. Bayangkan betapa kacaunya jika jalan tol tidak ada yang menjaga, stasiun kereta dan bandara tidak ada yang menjaga. Namun saya yakin ada cukup banyak pihak yang dapat mengambil manfaat dari bekerja di rumah.
Salam!

Sory Mas aku gak setuju! alasannya kerja dirumah menurut saya baik hanya untuk kerja sampingan saja disamping kita pny profesi. kasihan dong keluarga kita udah nekat lepasin kerjaan kita di instansi untuk bisa deket dengan keluarga namun apa semua ini bisa menjamin berlangsung terus? Spekulasi usaha untuk zaman sekarang sangat riskan.
@ sarkem: sip deh kalo g setuju. Setahu saya semua hal yang kita lakukan di dunia ini pasti spekulasi mas. Apa mas yakin bekerja di instansi itu menjamin? Bukankah kita juga bisa dipecat kapan saja kalau memang bos sudah “bertitah” demikian, apapun alasannya? Siapa yang tahu kalau suatu saat sang bos membutuhkan satu tempat dikosongkan untuk keponakan atau cucunya?
Ya tentu berbahaya kalau sekedar nekat mas, perlu perencanaan juga, dan saya harap artikel ini jadi pembuka jalan untuk memikirkan alternatif jalan hidup kita..
@hafiz: makanya, jadi pegawai negeri dong, hidup terjamin sampai hari tua tanpa pemecatan (kecuali ketahuan beristri lebih dari 1)
@ cat: jadi pns merana sampai tua dong
Sebenarnya pada dasarnya yang membentuk kita harus bekerja diluar sana, kita gak ada yang tau…
Tapi semua ini kehendak Sang Khaliq.
Ada yang bekerja di BUMN, PNS, Swasta, wiraswasta, etc.
Indah dan beragam …
kalaupun anda punya usul kerja dirumah, toh gak salah…, hanya saja pekerjaan yang paling sesuai dengan keinginan kita untuk mendapatkan penghasilan lebih layaknya diluar, itu pekerjaan seperti apa?, konkretnya gimana?
Klo dikatakan pekerjaan itu gak butuh uang, aku pikir nonsen banget, cos setiap orang yang bekerja pasti ingin mendapatkan imbalan dari pekerjaan tersebut utk menafkahi isteri dan anak. Dan konkretnya, semakin kita memperoleh penghasilan lebih, maka kemungkinan besar isteri dan anak terbutuhi segala keperluannya.
Selain itu sebagai manusia yang bersosial, kok kayaknya bekerja dirumah kurang sosial dan tantangan…
Ada orang yang berpikir sebagai safety player, tapi ada jg yang jadi risk taker. Well, ini kembali lagi ke sifat orangnya. You and me are risk takers, others are not.
Jikalau 9 dan 10 pintu surga adalah berniaga, why bother?
*eh, pintu kekayaan, bukan “pintu surga”
Saatnya kita untuk menjadi bos bagi diri kita sendiri, tidak perlu jamkerja, kantor dll. dapat dikerjakan dri rumah
Setuju!! Gw lebih produktif kl dirumah dibanding dikantor. Well, kantor perlu juga si buat naro dokumen ama gudang stok produk
Mengingat macetnya jakarta si, ilfil banget mo pergi kemana2…
Ha…ha…ha… Wah kalau kerja di rumah paling-paling diejek sama orang-orang dan tetangga-tetangga dengan ejekan ‘TIDOOO’ (Ejekan dalam bahasa melayu yang artinya orang rumah kerjanya makan tidur)
Saya lebih mendukung orang yang kerja swasta milik pribumi atau BUMN daripada PNS, karena budaya korupsi indonesia susah dibersihkan, kecuali negara indonesia menjadi negara makmur maka korupsi hampir tidak ada lagi. Ingat kalau masuk PNS disaat krisis seperti ini kita yang bekerja di birokrasi PNS akan terjebak dengan budaya korupsi dan tidak fair dalam kepegawaian, sehingga banyak pegawai yang nggak bisa berpolitik dalam birokrasi PNS akan kecewa dan makan hati.
Kerja di PNS, politik birokrasi lebih dominan daripada profesi.
Kerja di swasta, ilmu profesi dan prestasi kerja lebih menentukan karir seseorang.
Ingat kerja itu ibadah
Hahahaha… setuju, saya pun bekerja dari rumah.. i love my SOHO so much
. Tp emank gak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah. Mungkin hanya beberapa jenis pekerjaan profesi tertentu, misalnya : konsultan, arsitek, notaris, programmer, dsb. Tp kalau pegawai negeri gak mungkin dari rumah.. Dan berbagai macam pekerjaan ada kurang ada lebihnya. Kita gak mungkin menganjurkan semua orang untuk jd pengusaha, kalau semua jd pengusaha trus siapa yg bakal jd pegawai, kalau semua jd enterpreneur lantas siapa yg bakal jadi teller di bank, atau siapa yang bakal ngurus berkas2 ktp, surat tanah, akta kelahiran?? intinya semua pekerjaan baik.. asal halal dan ditujukan untuk ibadah seperti untuk mencari rejeki yg banyak guna menafkahi anak istri, atau di infaq kan ke panti asuhan insya Allah mendapat pahala yang setimpal.