Spammer itu Semakin Lama Kok Semakin Tidak Masuk Akal Ya?

18 06 2007

Saya pernah membaca bahwa di berbagai belahan bumi sudah banyak kartel-kartel spam. Iya, kartel, berlokasi entah di Cina atau Brazil atau di mana lagi. Salah satu metodenya ya dengan merekrut orang-orang untuk mengunjungi blog-blog dan mengirimkan komen spam.

Bahkan, sampai Dreamhost pun dibajak dan halaman indeks situs dimodifikasi dengan menambahkan link spam di bagian akhir kode HTML-nya.

Saya pikir kok spam itu tidak masuk akal ya? Satu hal, seharusnya tidak ada seorangpun di dunia ini yang suka dengan spam. Karena itu, bisa disimpulkan bahwa memakai jasa spammer untuk situs usaha kita justru akan mencoreng kredibilitas kita. Dan, para pengunjung yang datang karena link spam tadi kemungkinan terbesar datang karena terkecoh oleh spam, kan? Andaikan Anda ditipu entah bagaimana caranya tahu-tahu sudah berada di sebuah Mall, apakah Anda: 1) Murka dan beranjak pergi, atau 2) Ngiler dan bernafsu belanja?

Kalau Anda memilih no. 2, harap sadarlah bahwa bisa jadi Anda termasuk salah satu sumber pemasukan kartel spam yang telah menyiksa begitu banyak orang tak bersalah di dunia ini (atau setidaknya membuat inbox mereka penuh).

Dan saya juga miris bahwa para pemakai jasa spammer ini kalau bukan pemilik usaha yang naif dan tertipu oleh janji manis para spammer, ya pengusaha yang kemaruk duit dan menghalalkan berbagai cara. Kalau dilihat bahwa seringnya spam itu berjualan entah itu obat-obatan tidak jelas atau barang dagangan tipu-tipu lainnya, sepertinya lebih banyak pengusaha kemaruknya daripada pengusaha naifnya. Kesimpulan saya: dunia ini memang penuh orang-orang rakus seperti itu.

Spam itu memang aneh. Selalu mencari dan memakai trik baru untuk mengecoh sistem keamanan anti-spam. Sudah ada pop-up blocker, masih bisa dibobol. Sudah ada Akismet, masih bobol. Dan ini yang saya rasa logikanya tidak nyambung: Kalau orang-orang sudah bersusah-payah memblokir jalan masuk spam Anda, berapa sih kemungkinan mereka akan suka membaca spam itu jika bisa lolos? Negatif sembilan belas persen, mungkin.

Kelakuan mereka itu kan sejatinya mirip Dumbledore yang melakukan spamming ke rumah paman Vermont agar Harry Potter bisa membaca surat dari Hogwarts. Tapi, saya pikir hanya kalau spam itu menawarkan sesuatu yang seajaib dan semempesona Hogwarts, dia bisa diterima. Kalau cuma untuk memanjangkan anu saya rasa belum tidak terlalu ajaib ataupun perlu.

PS: Iya, saya tahu bahwa kasus penambahan link yang saya sebut di awal tadi secara spesifik bukan untuk membuat link tipuan, tetapi untuk menaikkan PageRank situs-situs tertentu (yang tentunya sudah membayar pada para spammer). Tapi dengan tujuan apapun spam tetap spam, kan?


Tindakan

Information

4 tanggapan

18 06 2007
falcunix

sekarang spammer ud bermodal

20 06 2007
Catshade

Kalo ngeliat keukeuhnya mereka bertahan sampe sekarang, satu2nya jawaban ya berarti ada cukup banyak orang bodoh di internet yang bisa ‘menghidupi’ para spammer ini. Sampai Juni 2007, tercatat di Wikipedia (entri “Internet”) ada 1.133 milyar pengakses internet. Kalau 0.001% saja yang cukup bodoh untuk memakan pancingan spammer2 itu, berarti ada…113.300 korban! (eh, bener gak ya segini?) Wuih, pangsa pasar yg potensial tuh, belum lagi memperhitungkan pertumbuhan pengguna internet yang masih pesat.

21 06 2007
hafiz

@ falcunix : iya kali..

@ Cat: yap, jadi pada intinya ignorance yah. Kaya’nya sih yang terpancing lebih dari 0.001 deh, satu persen mungkin? Wah satu persen itu gede banget pasarnya :)

23 06 2007
Kata-kata Dunia Internet yang Paling Menyebalkan « Taman Berteduh

[...] polling dari Inggris yang beritanya dirilis oleh The Age baru-baru ini. Kalau menurut saya? Spam dan [...]

Tinggalkan komentar