Ibu penjual roti maryam itu meminta seribu rupiah lagi, agar pas bisa memberikan kembalian sepuluh ribu Rupiah untuk Mbak pembeli yang dua roti pesanannya berharga sebelas ribu Rupiah.
Mbak itu tidak punya selembar seribu. Sepertinya hanya dua puluh ribu yang dia ulurkan tadi yang ia bawa di dompetnya.
Ibu penjual itu tersenyum dan memberikan lembaran sepuluh ribu itu pada si Mbak. Dengan wajah segan dan ekspresi menolak, Mbak yang tampaknya telah menjadi pelanggan lama itu mengibas-ngibaskan tangan—gestur khas orang Jawa yang menunjukkan rasa sungkan. Si Ibu penjual terus menyodorkan uang itu sampai diterima. Memang tak ada pilihan lagi, dan akhirnya si Mbak berlalu sambil mengucap terima kasih berkali-kali.
Saat itu saya di sana. Dan dengan menanggung kerugian seribu Rupiah itu, si Ibu penjual berhasil memperoleh sekeping mindshare dalam kepala saya.
Dengan seribu rupiah, dia berhasil mendapat tempat di benak saya, mendapat satu posting di blog saya.
Seribu rupiah yang kalau dia berikan cuma-cuma buat saya, saya justru akan menilai dia sebagai pedagang yang aneh, tidak seberapa ada nilainya. Tetapi begitu seribu yang sama itu ada dalam konteks dia mencoba memberi layanan lebih pada pelanggan, nilainya jadi naik berkali-kali lipat.
Seribu rupiah itu tidak cukup untuk pasang iklan baris di koran.
Seribu rupiah itu tidak cukup untuk pasang spanduk, baliho, menebar selebaran.
Tapi, dengan attitude yang pas, dengan kepedulian yang tidak dibuat-buat, seribu rupiah itu bisa bermakna jauh lebih dalam.
Masih berpikir kalau usaha itu perlu modal besar?

Deeply moved…
Bingung harus bersikap apa setelah membaca post ini, jadinya kok malah..
Hiks terharu…
Lha? Piye tho?
Btw Fiz, smileyne ojo dibusek ya, wajib pake lek chat karo aku….hehehe
bisnis itu perlu modal “kejujuran”
yah menarik, karena tidak banyak yang berpikir itu