Sepakbola.
Pernahkah terpikir bagimu bagaimana bisa sebuah permainan semacam ini dapat sedemikian merasuk pada hati dan meramu emosi para penggemarnya? Ya, bagaimana bisa?
For God’s sake, it’s just a bunch of people running around chasing a ball.
Dipikir dari manapun, ini hanya permainan yang konyol. Sederhana, lucu, ironis. Tetapi tahukah kamu apa rahasianya yang membuat kami semua sedemikian terpicu, terpacu, begitu terobsesi padanya hingga kami relakan porsi besar dalam perasaan, pikiran dan hati kami untuknya?
Tak lain karena sejatinya, jauh di lubuk hati kami, sepakbola adalah sebuah dunia impian di mana keadilan ditegakkan. Dan itulah yang sungguh-sungguh kami rindukan. Keadilan.
Sepakbola adalah pertandingan di mana pelanggaran diganjar tendangan bebas, tekel menjurus bahaya kartu kuning, dan agresi keras dibalas kartu merah. Setimpal, tanpa birokrasi berbelit, sebab dan akibat. Pun, ketika bola masuk ke gawang, maka gol adalah gol, penciptanya mendapat satu angka. Bersih. Tak pernah sekalipun satu angka itu dimakan 80%-nya oleh penguasa yang lebih tinggi, misalnya. Tak pernah ada ceritanya untuk mendapat satu angka itu seseorang harus mengunjungi kantor demi kantor, mengumpulkan tanda tangan ini dan berkas fotokopi itu.
Tidak ada.
Dan itulah sejatinya yang kami cari dari sepakbola. Sebuah harapan tentang bahagianya hidup ketika keadilan ditegakkan dengan indahnya. Secercah kedamaian yang sulit, sungguh terlalu sulit untuk dicari di kehidupan yang kami jalani sehari-hari, di negara sampah ini.
Maka, PSSI, jauhilah sepakbola kami.
Karena ketidakbecusanmu berujung pada penunjukan wasit yang tidak pantas, pemilihan stadion yang tidak pantas, pengaturan keamanan yang tidak pantas, dan pengendalian massa yang tidak pantas. Keadilan pun runtuh, kecurangan dan ketidakseimbangan menebar aroma busuk pada tiap langkahmu. Tragedi yang pada akhirnya merampas dan mencerabut impian tentang keadilan itu langsung dari jantung hati kami.
Dan, betapa dalamnya luka itu! Kau, dengan ketidakbecusanmu, telah dengan kasar membangunkan kami yang lelap dalam mimpi terjaga yang indah ini—mengingatkan kami kembali pada kenyataan sehari-hari yang pedih dan memuakkan.
Kau, dengan kebusukan yang jelas bukan untuk kali pertama ini.
Maka, amuk.
Tidak bisa tidak.
Tak satu makhlukpun yang akan terima impiannya diusik, diganggu, terlebih dicerca dan disiksa perlahan-lahan hingga habis batas kesabaran. Terlebih olehmu, yang terus terang saja sama sekali tak pernah punya tempat terhormat lagi di hati kami.
Maka, PSSI, jauhi sepakbola kami. Jauhi permainan ini. Jauhi impian ini.
Kau tak punya tempat di sini. Tidak sekarang. Tidak kapanpun.

postingannya lebih bijak daripada punyaku yang marah2
setujuuu, majukan sepak bola indonesia
hibur kami
banggakan kami
top fiz!
marah2 dengan kata2 yang benar. keren!
hidup sepak bola !
Stadion yg tidak pantas.. Yap, arema pantesnya disuruh maen di kandang sendiri ato di Irian Jaya. Bagus, kalo ngamuk biar ngrusak stadionnya sendiri. Maen di luar pulau? ga banyak supporter yang bisa dateng..
Bunuh aja wasitnya, ga usah ngrusak2 gt de..
Wasite b*ngs*t,perusuhe k*p*r*t,aparate l*kn*t.Tp Apapun alasannya,kekerasan bkan jwban…Wes pokoke Hidup Chelsea!!! Hidup Lampard!!!:-D
—ini tidak ada hubungannya dengan kejadian aremania@kediri lho… sorry fiz, if this comment considered annoying
cuma sekedar cuap2 belepotan dengan bekas milo panas di mulutku—
i hate soccer. bukan olahraganya. tapi benci dengan orang2 yang terlalu berperasaan dengan klub. Arema dengan aremania, persebaya dengan bonek, persib dengan … apa itu namanya supporter persib? dan lain sebagainya.
bagaimana ikatan perasaan persepakbolaan ini dapat memisah, memutus tali persaudaraan antara orang malang dan orang surabaya. orang bandung dan orang jakarta. orang indonesia dan orang malaysia.
padahal, kebanyakan dari mereka adalah sama sama ISLAMnya. bukankan sesama muslim itu saudara ? klub sepakbola, telah meng-kotak kotak kan umat islam menjadi aremania, bonek, the viking, jakmania, dll. diakui ato tidak, memang begitulah faktanya.
jangan bermimpi punya kesatuan yang utuh, jika perasaan dijadikan standar untuk bersatu.
jadilah soccer cuma sesederhana permainan pengantar keringat disore hari di halaman rumah, jalan jalan di kampung, atau lapangan deket hutan mipa.
Go Mas Arief, go!
Setuju aku. Ini baru oke ^^
Cakep n manteb dah.. No soccer di rumahku ntar..
Gitu aja kok repot………..yg suka bola ya monggo, yg gak suka y monggo…yg penting tetep hidup rukun berdampingan…Dirumahq, qt makin akrab salah satuna krena bola walau punya tim favorit yg gak sama, seru aja rasana nonton bola rame2
…Peace, Love n Soccer lha:)
baca tulisan ini, dan baca komentarnya arief aku cuman bisa ternyum, senang punya teman2 cerdas seperti kalian!
Rada kurang suka dengan istilah,
jgn dijauhi dunk… tuh bapak kesayangan kita bentar lagi keluar dari penjara, hahaha….